Islamicstudiestb's Blog

Islam is solution, because it from Allah

6.3 AKHLAK DALAM ISLAM

Seorang muslim adalah manusia biasa, ia bukan malaikat dan bukan iblis. Karena itu wajar jika kadang-kadang melakukan perbuatan haram, atau malas mengerjakan perintah-perintah Allah. Sekali, dua kali atau beberapa kali bisa saja itu terjadi pada dirinya, mungkin ia lalai. Bisa juga ia tidak tahu, bahwa perbuatan itu bertentangan dengan Islam dan sifat-sifat mulia seorang pribadi muslim. Atau mungkin setan telah merasuk dalam dirinya dan nafsu telah mencengkramnya, sehingga ia terjerumus dalam perbuatan dosa. Ia melakukan itu semua, sementara aqidah Islam bersemayam di dalam dirinya.

Ada yang menganggap melakukan perbuatan dosa berarti telah mengeluarkan seseorang dari Islam. Melakukan perbuatan yang berlawanan dengan sifat seorang muslim, berarti menghapus sykhshiyah Islamiyah pada diri seorang muslim.

Itu tidak benar. Tingkah laku seorang muslim yang betentangan dengan Islam, tidak otomatis menghilangkan sykhshiyahnya. Apalagi mengeluarkannya dari Islam. Tapi secara berangsur-angsur perbuatan itu akan menggerogoti syakhshiyahnya. Jika hal itu terus dilakukannya, maka syakhshiyahnya makin melemah.

Selama aqidah Islam masih ada dalam dirinya maka ia tetap seorang muslim, walaupun perbuatan-perbuatan maksiat tak henti-hentinya ia lakukan. Dan selama aqidahnya itu digunakan sebagai tolok ukur bagi pemikiran dan perbuatannya, maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki syakhshiyah Islamiyah selemah apapun. Seorang muslim tidak akan kehilangan syakhshiyahnya, selama ia belum keluar dari Islam. Ia tidak akan keluar dari Islam, Selama aqidah Islam masih dipeluknya. Ia tidak akan kehilangan syakhshiyahnya, kecuali jika ia hanya membiarkan aqidahnya bersemayam di hati, tidak difungsikannya sebagi tolok ukur bagi pemikiran dan kecenderungannya. Atau ia menggunakan aqidah dan tata nilai lain — selain Islam–. Karena itu bisa saja terjadi ada seorang muslim , tetapi tidak memiliki syakhshiyah Islamiyah.

Hanya dengan pengakuan aqidah Islam, belum tentu memiliki syakhshiyah Islamiyah, sebab ikatan aqidah dengan pemikiran manusia bukan bersifat mekanis yang secara otomatis bergerak bersama. Tapi antara keduanya merupakan ikatan ijtima’i yang memiliki kecenderungan memisah dan bertemu. Karenanya jangan heran, apabila ada orang-orang yang mengerjakan sesuatu yang bertentangan dengan aqidahnya. Yang penting tatkala ia sadar, yang ia lakukan bertentangan dengan aqidahnya, ia segera bertobat kembali ke jalan yang benar.

Jadi, seseorang yang melakukan penyelewengan terhadap perintah dan larangan Allah, tidak berarti ia kehilangan aqidahnya. Hanya saja ia telah merusak ikatan aqidah dengan amal perbuatannya. Ia dipandang sebagai orang yang bermaksiyat kepada Allah. Di hari kiamat nanti, ia akan disiksa karena melakukan perbuatan itu.

Penjelasan itu tidak berarti membuka peluang –apalagi mendorong– seorang muslim untuk mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim tidak boleh melakukan itu. Sebab larangan dalam Al-Qur’an Al-Karimsudah teramat jelas. Dan siksa di akhirat teramat pedih. Allah berfirman :

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan jangan pula mengkhianati amanat-amanat (yang dilimpahkan) bagimu padahal kamu mengetahui”  (QS. Al Anfal : 27)

 

“(Dan) bagi siapa saja yang melanggar hukum-hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (QS. Al Baqoroh : 229)

 

Untuk dapat memiliki syakhshiyah Islamiyah, seorang muslim bukan berarti harus  mengembangkan sifat-sifat yang berlebihan di luar petunjuk syari’at. Seorang muslim adalah manusia. Dan syakhshiyah Islamiyah itu ada pada manusia, bukan pada malaikat.Jika seorang terjerumus dalam dosa, tidak berarti dia telah mengganti syakhshiyahnya dengan selain Islam. Tapi jika melepas aqidah Islamnya, maka lepaslah syakhshiyahnya. Tiada gunanya ia melakukan amal perbuatan apa pun.

Karena itu, yang terpenting adalah soal keselamatan aqidah Islam. lalu dengan aqidahnya itu ditetapkannya pemikiran dan kecenderungan dirinya. Ingatlah, saat ini terlalu banyak hal yang mengancam keselamatan aqidah. Faham-faham sekularisme, penerimaan terhadap sebagian  yang lain, pemelukan faham kebebasan gaya Barat. Jika seorang telah kufur, maka tidak berguna seluruh amal kebaikannya. Amalannya laksana debu yang dihambur-hamburkannya. Dia akan dijebloskannya ke dalam neraka. Rasulullah bersabda :

“Siapa saja yang ingkar terhadap ayat-ayat Al Quran, maka sungguh ia telah kufur…(HR. Thabrani)

 

Akhlak Dalam Islam

Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada junjungan kita Rasulullah SAW, untuk mengatur segenap urusan manusia, baik berkaitan hubungan dengan Allah (ibadah dan aqidah), hubungan dengan sesama manusia (muamalah, uqubat/sanksi), dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak, makanan, minuman dan pakaian). Dengan demikian, sesungguhnya akhlak merupakan bagian dari syariat (aturan Allah). Akhlak merupakan bagian dari perintah dan laran­gan Allah SWT.

Orang-orang yang memiliki akhlak yang baik, haruslah dinilai sebagai orang yang melaksanakan perintah Allah, bukan melihatnya hanya sebagai sifat moralitas atau kemanusiaan saja. Ukuran akhlak baik dan buruk harus berdasarkan hukum syara’. Allah SWT memerintahkan berkata jujur dan melarang berdusta,  bukan berdasarkan sifat itu baik secara moral, tetapi karena berdasarkan hukum syara’. Apabila kita melihat akhlak dari segi moral dalam pandangan manusia saja, berarti orang yang berbohong, bersikap kasar atau  membunuh orang lain itu berakhlak  tidak baik. Padahal dalam Islam, seseorang boleh saja berbohong dalam keadaan tertentu, seperti berbohong sebagai strategi di medan perang, atau berbo­hong dalam rangka mendamaikan suami istri yang saling berseng­keta.Syara’ juga membolehkan orang untuk membunuh, seperti  ketika jihad memerangi orang-orang kafir, atau bersikap tegas kepada orang-orang kafir. Sekali lagi, ukuran akhlak tersebut bukanlah sekedar moral, kemanfaatan atau perasaan belaka. Allah berfirman:

مُحَمَّـدٌ رَّسـُوْلُ اللهِ وَ الَّذِيـْنَ مَعَهُ أَشِـدَّآءُ عَلَى الْـكُفـَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنـَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersa­manya adalah keras terhadap orang-orang kafir, dan berkasih sayang diantara mereka …”(QS Al- Fath: 29)

كُتِـبَ عَلَيـْكُمُ الْقِتـَالُ وَ هُوَ كُـرْهٌ لَـكُمْ وَ عَسَى أَنْ تَـكْرَهُوْا شَيْـئًا وَ هُوَ خَيْـرٌ لَـكُمْ وَ عَسَى أَنْ تُحِـبُّوْا شَيْـئًا وَ هُوَ شَـرٌّ لَّـكُمْ وَ اللهُ يَعْـلَمُ وَ أَنْـتُمْ لاَ تَعْـلَمُـوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyu­kai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)

 

            Di samping itu, kalau seorang muslim bersikap jujur sema­ta-mata karena moral, dia tidak mendapatkan ganjaran  pahala atas perbuatannya. Sebab, ia mengerjakannya bukan berda­sarkan perintah hukum syara’ melainkan  karena  menganggap sifat jujur memiliki kebaikan secara moral atau bermanfaat baginya.

Secara bahasa, pengertian akhlak diambil dari bahasa asalnya yaitu bahasa Arab yang berarti :

a. perangai, tabiat, adat (diambil dari kata dasar khuluqun)

b. kejadian, buatan, ciptaan (diambil dari kata dasar khalqun)

Adapun pengertian akhlak secara terminologis, para ulama telah banyak mendefinisikan, di antaranya sebagai berikut :

a.         Ibnu Maskawaih dalam bukunya Tahdzibul Akhlaq :

Akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan.

b.         Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddiin :

Akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang me lahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Dari pengertian akhlak menurut Ibnu Maskawaih dan Al Ghazali di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah perilaku yang didorong oleh kesadaran-nya yang terdalam, yang karena sudah begitu terbiasanya dilakukan oleh seseorang, perilaku tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang  seolah-olah sudah tanpa pertimbangan lagi.

Akhlak terbagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak yang baik (mahmudah) atau disebut juga akhlak terpuji (akhlaqul karimah) dan akhlak yang buruk (madzmumah). Akhlak yang baik adalah akhlak yang didasarkan kepada Al- Qur’an dan keteladanan Rasullulah saw. Artinya,  seseorang yang berakhlak mulia adalah seseorang yang seluruh  perilakunya didasarkan kepada ketentuan Allah dalam Al-Qur’ân dan keteladanan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi, akhlak yang baik bukan karena sebuah pekerjaan itu baik dalam pandangan manusia. Misalnya, adanya pandangan bahwa kejujuran, kesopanan, tolong-menolong, dan bersikap ramah itu baik dalam pandangan manusia. Sementara, berbohong, membunuh, dan bersikap kasar itu adalah pekerjaan yang buruk dalam pandangan manusia. Akhlak yang baik dari seseorang adalah manakala seseorang melakukan perbuatan jujur, sopan, tolong-menolong, bersikap ramah, termasuk juga berbohong, membunuh, bersikap tegas, dan kasar berdasarkan pada perintah syara’. Perilaku dan sikap itu semua didasari oleh ketentuan Allah di dalam Al-Qur’ân dan keteladanan Rasulullah SAW dalam sunnahnya, pada suatu keadaan atau peristiwa tertentu.

Contoh, seorang muslim diperkenankan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya untuk berbohong dalam rangka menda­maikan suami isteri yang sedang bersengketa. Rasulullah SAW juga memperkenankan takabbur (sombong) kepada orang yang sombong. Dalam Al-Qur’ân Allah SWT menegaskan ciri-ciri orang beriman, yaitu bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.

مُحَمَّـدٌ رَّسـُوْلُ اللهِ وَ الَّذِيـْنَ مَعَهُ أَشِـدَّآءُ عَلَى الْـكُفـَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنـَهُمْ .

“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orag-orang kafir, dan berka­sih sayang di antara mereka ….” (QS Al-Fath: 29)

 

            Adapun akhlak yang buruk (madzmumah) adalah akhlak yang bertentangan dengan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Akhlak ini diperbuat semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu atau keinginan manusia semata.

 

 

Contoh-Contoh Akhlak

Akhlak berdasarkan syariat Islam dipandang dalam dua kategori, yaitu baik (akhlaqul karimah) dan buruk (akhlaq madzmumah), berikut ini adalah beberapa contoh dari keduanya:

 

1. Akhlaqul Karimah (Akhlak terpuji)

a. Jujur dan benar dalam bertindak, berucap, serta berjanji;

يَآأَيـُّهَا الَّـذِيْنَ ءَامَنُـوْا أَوْفُـوْا بِالْعُـقُـوْدِ ..

 

“Wahai orang-orang yang  beriman penuhilah akad-akad itu…..” (QS Al-Maidah: 1)

مِنَ الْمُؤْمِنِـيْنَ رِجَالٌ صَـدَقُـوْا مَا عَاهَدُوْا اللهَ عَلَـيْهِ فَمِنْـهُمْ مَّنْ قَضَى نَحْـبَهُ

 

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur…” (QS Al-Ahzab: 23)

 

b. Sabar;

وَ اصْـبِرْ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُضِـيْعُ أَجْرَ الْمُحْسِـنِيْنَ

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaj­ikan..” (QS Huud: 115)

 

c. Mengeluarkan infaq, menguasai kemarahan, dan memaafkan manusia;

الَّـذِيْنَ يُنْفِقُـوْنَ فِى السَّـرَّآءِ وَ الضَّـرَّآءِ وَ الْـكَاظِمِـيْنَ الْغَـيْظَ وَ الْعَافِـيْنَ عَنِ النـَّاسِ وَ اللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِـنِـيْنَ

 

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan..” (QS Ali Imran: 134)

 

d. Dzikrullah (mengingat Allah);

فَاذْكُرُوْا نِى أَذْكُـرْ كُمْ وَ اشْـكُرُوْا لِى وَ لاَ تَكْفُـرُوْنِ

 

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku serta jangan kamu mengingkari nikmat-Ku..” (QS Al-Baqarah: 152)

 

 

e. Tawakal;

… فَإِذَا عَزَمْتَ فَـتَـوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَـوَكِّلِيْـنَ

 

“… kemudian jika kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang­-orang yang bertawakal kepada-Nya..”                      (QS Ali Imran: 159)

 

f. Tawadlu (rendah hati);

وَ لاَ تُصَـعِّرْ خَـدَّكَ لِلنـَّاسِ وَ لاَ تَمْـشِ فِى اْلأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْـتَـالٍ فَخُـوْرٍ

 

“Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

 

g. Berbuat baik kepada orang tua;

فَاعْـبُدُوْا اللهَ وَ لاَ تُشْـرِكُـوْا بِهِ شَيْـئًا وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانـًا وَ بِذِي الْقُـرْبَى وَ الْيَتـَامَى وَ الْمَسَاكِـيْنِ وَ الْجَارِ ذِي الْقُـرْبَى وَ الْجَارِ الْجُـنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِالْجَنْـبِ وَ ابْنِ السَّـبِـيْلِ وَ مَا مَلَـكَتْ أَيْمَانُـكُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ مَنْ كَـانَ مُخْـتَـالاً فَخُـوْرًا

 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (musafir) dan sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS An-Nisaa’:36)

 

h. Tolong menolong (Ta’awun);

… وَ تَعَاوَنُـوْا عَلَى الْبِـرِّ وَ التَّـقْـوَى وَ لاَ تَعَاوَنُـوْا عَلَى اْلإِثـْمِ وَ الْعُـدْوَانِ وَ اتَّقُـوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْـدُ الْعِقـَابِ

 

“…Tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguh­nya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah:2)

 

i. Amanah (dapat dipercaya) dan adil;

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُـؤَدُّوْا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَ إِذَا حَكَمْـتُمْ بَيْنَ النـَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَـدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمـَّا يَعِـظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِـيْعًا بَصِيْـرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetap­kan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”      ( QS An-Nisaa’:58)

 

 

 

 

 

2.  Akhlaqul Madzmumah (Akhlak Tercela)

 

a. Berselisih, menggunakan hak orang lain;

وَ لاَ تَأْكُلُـوْا أَمْـوَالَـكُمْ بَيْنَـكُمْ بِالْبـَاطِلِ وَ تُـدْلُـوْا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُـوْا فَرِيْقـًا مِنْ أَمْـوَالِ النـَّاسِ بِاْلأِثـْمِ وَ أَنْتـُمْ تَعْـلَمُـوْنَ

 

“Dan janganlah kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil, dan janganlah kamu memba­wa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain  itu  dengan  jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 188)

 

b. Bunuh diri;

… وَ لاَ تَقْتـُلُـوْا أَنْفُسَـكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِـيْمًا

 

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisaa’: 29)

 

c. Mengucapkan kata-kata yang buruk dan kotor;

لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجَـهْرَ بِالسُّـوْءِ مِنَ الْقـَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُـلِمَ وَ كَانَ اللهُ سَـمِيْعـًا عَلِـيْمًا

 

“Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nisaa: 148)

 

d. Bergunjing (Ghibah), berprasangka buruk, dan mencari-cari kesalahan;

يَآأَيـُّهَا الَّـذِيْنَ آمَنُـوْا اجْـتَـنِبُـوْا كَثِـيْرًا مِّنَ الظَّـنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّـنِّ إِثـْمٌ وَ لاَ تَجَسَّسُـوْا وَ لاَ يَغْـتَـبْ بَّعْـضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَـدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِـيْهِ مَـيْـتًا فَكَرِهْـتُمُـوْهُ وَ اتَّـقُـوْا اللهَ إِنَّ اللهَ تَـوَابٌ رَحِيــْمٌ

 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu  mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Peneri­ma taubat lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hujurat: 12)

 

e. Berlebih-lebihan, mubadzir;

… وَ لاَ تُسْـرِفُـوْا إِنَّـهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْـرِفِـيْنَ

 

“…Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan..” (QS Al-An’am: 141)

 

Akhlak Rasulullah SAW dan Para Sahabatnya

Pada zaman khalifah Umar bin Khatab, seorang Yahudi datang menemui khalifah, “Ceritakan kepadaku akhlak Rasul kalian!” Umar tidak sanggup memenuhi permintaannya. Beliau lalu menyuruh Yahudi itu menemui Bilal. Ternyata Bilal pun tidak sanggup. Akhirnya, Yahudi itu sampai pada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib yang diketahuinya telah mengenal Rasulullah SAW sejak kecil, dan sering mengadakan perjalanan bersamanya, Ali bertanya kepada Yahudi itu, “Lukis­kan keindahan dunia ini dan akan aku gambarkan kepada anda tentang akhlak Nabi saw!” Lelaki itu berkata, “Tidak mudah bagiku.” Ali lalu berkata, “Engkau tidak mampu melukiskan keindahan dunia, padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia, ketika Allah SWT berfirman, ‘Keindahan dunia itu kecil.’ (QS. An Nisaa’: 77) Bagaimana mung­kin aku melukiskan akhlak Rasulullah SAW padahal Allah SWT bersaksi bahwa akhlaknya itu agung.

Ya,  melukiskan keteladanan  akhlak Rasulullah SAW sangatlah tidak mudah. Kadang-kadang bila para sahabat ditanya tentang Rasulullah mereka hanya sanggup menceritakan episode-episode yang paling mengesankan dalam pengalamannya ketika bersama Nabi saw, di samping episode-episode lain yang mungkin hanya dapat dirasakan pesonanya oleh hati dan tidak dapat diungkap-kan. Oleh sebab itu, tidak heran jika Thomas Carlyle dalam On Heroes and Hero Workship mengungkapkan keteladanan Rasulullah SAW sebagai berikut :

“Dia datang seperti sepercik sinar dari langit, jatuh  ke padang pasir  yang tandus, kemudian meledakkan butir-butir debu menjadi mesiu yang membakar angkasa dari Delhi ke Granada.”

Namun, meskipun sulit untuk diungkapkan begitu agungnya akhlak Rasulullah SAW, untuk mengikuti jejak kemuliaannya tidaklah sukar karena Aisyah ra. telah mendefinisikan akhlak Rasulullah SAW adalah  Al-Qur’ân. Dalam  suatu  riwayat dikemukakan bahwa Saad bin Hisyam bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah SAW, Aisyah balik bertanya, “Apakah kamu membaca Al-Qur’ân?“, “Tentu  saja!” jawab Saad. Lalu Aisyah ra. berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’ân!

Berikut ini kita akan lihat beberapa kisah teladan Rasulullah SAW dengan para sahabatnya, yang mudah-mudahan dapat mengembalikan kesadaran kita pada fungsi dasar sebagai muslim yaitu menjadi rahmat bagi alam semesta.

Setiba Rasulullah SAW dan para sahabatnya di suatu tempat dan turun dari kendaraannya, mereka berencana untuk menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama. Seorang sahabat berteriak, “Aku akan menyembelihnya!” Sahabat yang lainnya berkata, “Aku yang akan mengulitinya!“  Sahabat lainnya lagi berkata, “Aku yang akan memasaknya!” Rasulullah berkata, “Aku yang akan mencari kayu bakar untuk memasaknya.” Semua sahabat berkata, “Jangan wahai Rasulullah, biarkan kami yang melakukannya. Biarlah anda duduk  tidak usah bekerja.” Rasulullah SAW berkata, “Aku tahu kalian akan melakukannya, tapi Allah SWT tidak suka kepada seseorang yang melihat dirinya berbeda dari yang lain, sedang ia berada diantara mereka.” Nabi saw pun pergi ke padang pasir dan mengambil kayu-kayu untuk bahan bakar masakan tadi.

Ada seorang perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari Nabi Muhammad saw tidak menemui perempuan itu. Nabi Muhammad saw pun lalu menanyakannya. Para sahabat mengatakan bahwa ia sudah meninggal. Ketika itu Nabi Muhammad saw menegur mereka karena beliau tidak diberi tahu tentang meninggalnya perempuan tadi. Setelah itu beliau pergi ke kuburan perempuan tersebut (setelah diberi tahu para sahabat letaknya) dan shalat untuknya. (Saat menegur para sahabat Nabi Muhammad saw mengingatkan para sahabat bahwa di dunia ini, tidak ada perbe­daan antara yang kaya dan yang miskin, begitu pula derajat status sosial lainnya).

Ketika baru pulang dari perang Tabuk, Rasulullah SAW melihat tangan Sa’ad bin Muadz menghitam dan melepuh. “Mengapa tanganmu?“, tanya Rasulullah SAW. “Karena oleh palu dan  sekop besi yang saya pergunakan untuk mencari nafkah untuk keluarga yang menjadi tanggunganku“, jawab Sa’ad. Rasulullah SAW lalu mengambil tangan itu dan menciumnya, “Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka.” Lihatlah, Rasulullah SAW yang tangannya senantiasa diperebutkan untuk dicium (dan seringkali ia menolaknya karena takut umatnya syirik karena terlalu menghormatinya) tanpa ragu-ragu mencium tangan yang kasar.

Seorang wanita datang menghadap RasulullahsSaw lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku datang kemari disebabkan ada kepentingan kepada Tuan!” Rasulullah berkata, “Duduk sajalah di jalan mana yang kamu sukai di kota Madinah ini, niscaya aku akan duduk (datang) memenuhi permintaanmu untuk mengurus keperluanmu itu!

Malam itu Hasan bin Ali tidak bisa  tidur,  sehingga  pada  malam  itu ia hanya memperhatikan dan mendengar ibunya berdo’a. Esoknya Hasan bertanya, “Sepanjang malam aku menden­gar ibu berdo’a hanya untuk orang lain, tetapi untuk ibu sendiri tidak.” Fatimah Az-Zahra sang ibu dengan penuh kasih sayang menjawab, “Anakku!, pertama adalah mendo’akan orang lain, baru diri sendiri.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab, kaum muslimin di Madinah dilanda kemarau panjang dan kelaparan. Suatu hari datang kafilah dari Syam dengan seribu unta yang penuh dengan makanan dan barang dagangan milik Utsman bin Affan. Para pedagang berebut menawarkan harga untuk memperoleh barang dagangan itu dengan harga yang sangat menguntungkan Utsman. Namun, Utsman menolak semua tawaran yang ‘menguntung­kan’ itu, beliau lebih memilih kecintaan-Nya. Beliau berkata, “Sesungguhnya ada pembeli yang akan memberiku keuntungan berli­pat ganda, tahukah kalian bahwa Allah telah berfirman.”:

مَثَـلُ الَّذِيـْنَ يُنْـفِقُـوْنَ أَمْوَالَـهُمْ فِى سَـبِيْـلِ اللهِ كَمَثـَلِ حَـبَّةٍ أَنْبَتَـتْ سَـبْعَ سَـنَابِلَ فِى كُلِّ سُـنْبـُلَةٍ مِّأْئـَةُ حَبَّةٍ وَ اللهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَـآءُ وَ اللهُ وَاسِـعٌ عَلِيْمٌ

 

“Bandingan pahala orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, adalah seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, di tiap tangkai ada seratus biji dan Allah menggandakan pahala pada siapa yang Ia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 261).

 

            Lalu Utsman membagi-bagikan makanan tadi kepada kaum muslimin yang memerlukannya dengan gratis tanpa menun­tut pamrih atau imbalan.

Ketika terjadi perang Yarmuk, seorang sahabat mendengar suara rintihan meminta air di antara jenazah yang bergelimpangan akibat peperangan. Sahabat itu lalu membawa air menujunya. Ketika air itu hendak diminum, terdengar suara rintihan dari arah lain, sahabat yang tadi merintih meminta air minum lalu meminta sahabat yang membawa air minum tadi untuk memberikan airnya pada sahabat lain yang membutuhkan air minum. Sahabat tadi pun lalu membawa air minum tadi ke tempat sahabat lain. Ketika akan diminum, tiba-tiba dari arah lain terdengar suara rintihan meminta minum. Sahabat ini pun sama dengan sahabat yang pertama, ia lebih merelakan air minumnya untuk sahabat lain yang lebih membutuhkan. Ia pun meminta sahabat yang membawa air minum tadi untuk membawakan air minumnya pada sahabat yang lain lagi. Sahabat ini pun lalu membawa air minum tadi ke tempat sahabat yang merintih meminta air minum tadi. Namun sayang, sahabat itu telah meninggal dunia, lalu air itu dibawa ke tempat sahabat yang kedua, tetapi  sahabat yang kedua pun telah meninggal dengan senyum di bibirnya, begitu pula ketika air minum itu hendak diberikan kepada sahabat yang pertama yang meminta air, sahabat itu telah meninggal dunia dengan ikhlas dan perasaan bahagia. Ketiganya wafat dalam menegakkan agama dan menjalankan syariat Islam, yaitu lebih mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.

 

September 3, 2011 - Posted by | The Sixth Lesson

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.