Islamicstudiestb's Blog

Islam is solution, because it from Allah

Ramadhan

Diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dari Salman bahwa Rasulullah saw. pada hari terakhir dari bulan Sya’ban berceramah di depan para sahabat untuk menerangkan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan. Beliau saw. bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan agung yang senantiasa penuh dengan keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan shaumnya wajib dan berdiri shalat pada malam harinya suatu tathawu (disukai Allah). Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu pekerjaan yang baik pada bulan ini, maka nilainya sama dengan orang yang menunaikan aktifitas wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa menunaikan kewajiban pada bulan Ramadhan, maka nilainya sama dengan orang yang menunaikan 70 kewajiban pada bulan lain. Ramadhan adalah bulan sabar, sedangkan kesabaran, pahalanya jannah (surga). Ramadhan adalah bulan Allah memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rezki kepada orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang memberi makanan berbuka di dalamnya kepada seseorang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan maghfirah (ampunan) Allah dari dosa yang dilakukannya dan pembebasan dari siksa api neraka. Orang yang memberikan makanan berbuka puasa, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang mengerjakan puasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang berpuasa. Pada saat itu sebagian sahabat bertanya: Ya Rasulullah, tidaklah semua di antara kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang yang berpuasa? Maka bersabda Rasulullah saw: Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu….

Makna Keberkahan

Di awal pidatonya, Rasullah saw mengungkapkan perkataan bahwa pada bulan Ramadhan manusia akan mendapat keberkahan. Keberkahan dalam kamus Indonesia berarti karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan untuk kehidupan umat manusia. Keberkahan dalam istilah bahasa Arab berawal dari kata baraka, bermakna ziyadatu al-khoer (bertambahnya Allah). Karena, al-khoer di sini memiliki makna apa yang Allah ridhoi. Adapun dalam istilah Sunda, keberkahan dapat dipahami melalui ungkapan saeutik mahi loba nyesa. Dengan demikian, keberkahan memiliki beragam makna, ada yang bersifat fisik-material, sosial-kemasyarakatan, moral, dan spiritual.

Keberkahan yang bersifat fisik-material, dapat terlihat pada laba yang berhasil diraup oleh para pengusaha, pengusaha busana muslim laris manis, dan pedagang kuliner berkah ‘abis’. Para pegawai pun tidak ketinggalan, mereka mendapatkan berkah berupa THR. Manusia mendapat keuntungan materi berlimpah pada bulan Ramadhan ini, kata ki Sunda bro dijuru bro di panto ngalayah di tengah imah. Bahkan, bagi setiap orang yang shaum secara fisik bertambah nilai kesehatannya, sebagaimana janji Rasul shuumuu tashihhu (shaumlah kalian, maka akan sehat).

Kedua, fenomena keberkahan sosial-kemasyarkatan terlihat semakin banyaknya para dermawan. Kencleng masjid senantiasa penuh uang shadaqah, jamuan berbuka selalu tersedia di masjid-masjid besar. Berbagai kelompok masyarakat menggelar pasar murah untuk membantu golongan ’elit’ (ekonomi sulit). Bahkan, acara tarling (terawih keliling) dengan membawa bantuan pembangunan masjid dilakukan pejabat. Mudah-mudahan kita bisa meneladani Rasulullah saw, dalam Hadits Bukhari-Muslim, Kedermawan Nabi saww melebihi kecepatan angin berhembus, tidak dimintakan sesuatu kepadanya dalam bulan Ramadhan melainkan diberikannya. Kemurahan hati Rasul tidak terbatas pada harta saja, tetapi pada segala bidang kehidupan. Beliau memberi pelajaran kepada orang jahil, menyelesaikan kesulitan yang terjadi di tengah masyarakat, serta menanggung beban hidup mereka dengan baitul mal. Bisakah pemerintah juga tetap melayani masyarakat dengan harga kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan yang murah?

Ketiga keberkahan akhlaqiyah, pada bulan Ramadhan ini, terlihat disekitar kita seperti dari cara berbusananya kaum muslimah, acara-acara di media elektronik pun terkesan santun tiis ceuli heurang soca. Pendidikan moral Islam, internalisasi nilai kejujuran, keberanian, keikhlasan, tekad kuat bersifat holistik dilakukan dengan berbagai kemasan. Ungkapan Dr. Husen Abdullah dalam bukunya Dirasah Islamiyah: al-akhlaq huwa sifat allatiy amara Allahu bihaa ’inda qiyaamihi bi’amalihi. Ahlak adalah sifat yang diperintahkan Allah yang harus ada ketika melakukan aktifitas. Definisi ini memberikan pengertian bahwa ahlak didasari aqidah Islam, akan muncul ketika melakukan ibadah, muamalah, dan dawah sesuai contoh Rasulullah. Kita dapat memahami ungkapan Rasulllah ketika ditanya oleh para sahabat yang memiliki keterbatasan materi, tapi memiliki keinginan kuat untuk memberi makanan berbuka. Allah memberikan pahala ini kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu. Tekad yang kuat diawali dengan keikhlasan, kesucian hati, dan jiwa.

Selain keberkahan fisik-material, sosial-kemasyarkatan, dan akhlaqiyah, ada keberkahan ruhiyah. Keberkahan ruhiyah tampak pada peningkatan aktifitas ibadah sunnah (seperti shalat malam, tadarus Al-Qur’an, dan i’tikaf). Pada bulan Ramadhan aktivitas sunnah seorang hamba dinilai sama dengan nilai aktivitas wajib di sisi Allah. Betapa Allah sangat sayang kepada para hambanya yang taat mengabdi kepada-Nya. Apalagi bila aktivitas kebaikannya tersebut bertepatan dengan lailatul qadar (malam seribu bulan). Sehingga dalam sebuah hadits qudsi digambarkan, betapa Allah mencintai hambanya yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah. Nabi Muhammad mendeskripsikan cinta Allah kepada hambanya tersebut dengan ungkapan yang indah. Bahwa Allah akan menjadi penglihatan yang digunakan oleh hambanya untuk melihat. Allah akan menjadi pendengaran yang digunakan oleh hamba-Nya untuk mendengar. Allah akan menjadi tangan yang digunakannya untuk bekerja. Allah akan menjadi kaki yang digunakannya untuk berjalan di muka bumi. Ungkapan luar biasa ini, dalam istilah Sunda dikenal saciduh metu saucap nyata. Keberkahan ruhiyah ini, tentu diperuntukkan kepada para hamba-Nya setelah terlebih dahulu menyempurnakan amalan (aktivitas) yang wajib.

Manifestasi Keberkahan

Manifestasi keberkahan ruhiyah yaitu rasa takut akan murka-Nya, sekaligus berharap ridha Allah. Perasaan ini diwujudkan saat kita hendak menentukan awal dan akhir shaum ramadhan. Selama ini penentuan awal akhir Ramadhan menggunakan pendekatan bersifat fiqhiyyah sehingga sulit mempersatukan umat Islam di Indonesia, apalagi di dunia. Imam al-Jaziry dalam Madzahib araba’ah menjelaskan bahwa jumhur ulama, yaitu Imam Maliki, Abu Hanifah, Imam Hambal sepakat dengan ru’yat global, adapun pengikut mazhab Syafei menggunakan ru’yat mathali’ (lokalistik). Sementara para ahli hisab, baik yang tradisional maupun modern belum bisa menentukan standar yang sama dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan. Melalui energi ruhiyah diharapkan akan memunculkan keinginan untuk bersatu mewujudkan kaidah Amrul Imam yarfa’ul khilaf (Perintah Imam/Khalifah meninggalkan perbedaan pendapat). Langkah strategis ini tentu memerlukan proses penyamaan visi dan misi umat Islam yang terus-menerus sampai terealisasinya opini umum, yaitu umat Islam wajib memiliki satu pemimpin dunia. Adapun langkah teknis praktis yang dapat diwujudkan pada saat ini adalah melalui penggunaan teknologi informasi sehingga aktivitas ru’yat hilal dapat diliput dan ditayangkan di berbagai stasiun televisi di seluruh dunia. Langkah ini sangat mungkin dilakukan. Bukankah kita sering menyaksikan tayangan dari berbagai belahan dunia yang lain seperti berita dunia dan olah raga. Tapi untuk penyatuan umat Islam mengapa belum digunakan?

Manifestasi keberkahan akhlaqiyah antara lain sabar. Ungkapan sabar dalam kamus Balai Pustaka, bermakna tahan menghadapi tantangan, tenang pikiran dan perasaan, dan tidak tergesa-gesa. Tentu di bulan Sya’ban ini umat Islam dituntut untuk mempersiapkan diri fisik, mental (ilmunya, fiqih shiyam), dan siap ruhiahnya demi menyambut bulan Ramadhan ini agar bisa bersabar. Adapun sabar dalam istilah bahasa Arab berawal dari kata shabara, bermakna tabah hati, bersungguh-sungguh, dan hebat. Para ulama mengklasifikasikan sabar dalam tiga perkara, pertama ketika menghadapi musibah (sakit, tantangan, hambatan). Kedua, sabar dalam menunaikan kewajiban, dengan berbuat ihsaan (beribadah seolah melihat Allah atau menyakini dilihat Allah), sehingga tampil menjadi yang terbaik dalam profesinya. Ketiga, sabar meninggalkan larangan Allah, baik yang makruh (dibenci) maupun yang haram (berdosa) melakukannya. Kesabaran seperti inilah yang dimiliki pasukan Muhammad Al-Fatih ketika menaklukkan Konstantinopel dan mempersatukannya dengan wilayah Islam pada saat itu, sehingga bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah terwujud. Keberkahan fisik-material, sosial-kemasyarkatan, akhlaqiyah, dan ruhiyah ini bisa diraih, tentu dengan persiapan ilmu dan berlatih pada bulan Rajab dan Sya’ban. Wallahu A’lam

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.